Puisi Yuditeha (Koran Tempo, 30 Agustus 2025)
Salju Madison
.
pertama kali kau melihat salju seperti anak kecil melihat hantu
takut tapi penasaran
kau mencicipinya dan bertanya kenapa air bisa begitu dingin dan ringan
aku tak menjawab
karena sebagian dari kita memang belajar membeku lebih dulu daripada bicara
.
di asrama kau memeluk heater dan aku memeluk wacana
mungkin kita tidak harus menjelaskan semua
tidak harus saling tahu seluruh sejarah
karena cinta kadang lebih kuat saat kita pura-pura tidak kenal
.
kau kuliah hubungan internasional, aku mengambil urban planning
kita mulai bertumbuh di arah yang tak bisa ditarik garis lurus
kau bicara soal diplomasi, aku bicara soal trotoar yang adil
dan kita tahu tak ada pertemuan di antara peta-peta yang kita simpan
.
salju terus turun dan jendela semakin kabur seperti masa depan kita
yang bahkan tak bisa dilihat dari dalam kamar dengan pemanas terbaik
.
2025
.
.
Laundry Boston
.
di coin laundry itu kau kehilangan satu kaus kaki
aku kehilangan keberanian
untuk menanyakan apakah kau masih memimpikan pernikahan
di ruang kecil dengan mesin berdengung
kita menunggu cucian berputar
kau membaca novel haruki murakami
aku membaca wajahmu
yang tampaknya lebih tenang
sejak kita sepakat tidak saling ganggu terlalu dalam
.
kau mencium wangi sabun
berkata rindu bau tanah kampung
aku menjawab dengan senyum
karena bau tanah yang kau maksud
sudah tak cocok dengan sepatu kulit yang kau pakai sekarang
.
aku mencoba membetulkan kerahmu
kau menunduk dan mengatakan itu bukan milikku lagi
.
detergen cair tumpah ke lantai
dan kita berdua tertawa
karena hanya cairan seperti itu
yang masih bisa jatuh tanpa kehilangan fungsi
.
2025
.
.
Leave a Reply