Puisi Muh. Nasrul Evendi (Koran Tempo, 09 Agustus 2025)
Aborsi
.
Berikan aku udara yang tak penuh tuduhan
di rongga dada ini —
tempat rasa bersalah tumbuh bagai duri,
menusuk organ-organ rapuh yang hawa miliki.
.
Sebuah janji yang pernah kubuat,
menjadi rantai besi di air mata yang belum ditumbuhi berkat nama
ketika kehidupan mengakar di dalamnya
tanpa izin Qur’an dan aturan para nabi.
.
Bisikan agama melayang kelabu,
seperti yang memburu fajar,
di antara dinding penghakiman yang membeku,
membungkam suara dan harapan
menutup jalan ampun.
.
Aku bertanya pada langit yang suci,
adakah ruang untuk aku yang terjatuh?
Ataukah hanya badai celaan yang menyesak,
di bawah mata yang senantiasa menghakimi?
.
Di kamar sunyi ini, aku menghirup penyesalan,
seperti asap hitam dari bara padam,
sedangkan tubuh jiwa bergulat,
antara kasih dan larangan yang menjadi jerat pasih.
.
Hidupku kini kecemasan di bawah tubuh goblok,
lebih tajam dari serpihan kaca yang menyayat,
dan lebih dingin dari embun putri salju.
.
Bolehkah aku berdiri tanpa rasa lalu?
Atau haruskah aku tetap tersembunyi
di balik bayang-bayang larangan kejam,
menjadi mayat hidup di antara hidup yang mayat
ataukah tulang dagingku benar-benar menjadi mayat?
.
Unaaha, 2025
.
.
Setelah Bunuh Diri, Ini Puisi Paling Sepi yang Harus Kau Dengarkan
.
Setelah ibu bunuh diri
aku melihat lekat yang lain di dalam panti
dan tanda tangan pengasuh kami basah oleh darah yang tak dicuci bersih
.
Jalan-jalan kota yang menyempitkan urat nadi,
kau tak lagi tahu cara bernapas.
Setiap lampu merah terasa seperti kutuk,
dan suara klakson seperti siksaan harian yang dilegalkan negara.
.
Trotoar dipenuhi tubuh yang tak lagi punya rumah,
sementara spanduk politik menjanjikan langit
di atas aspal retak yang tak pernah diperbaiki.
.
Kami telah menulis surat
dengan tinta darah paling sabar,
kami telah antri di bawah terik
demi selembar kertas harapan yang kemudian dicampakkan
ke selokan yang mampet.
.
Tetapi siapa yang peduli?
Mereka tetap menyuruh kami tertib
sambil membakar udara dengan mesin,
mengisi kota dengan iklan,
dan doa-doa kosong dari pengeras suara yang menjual nama Tuhan.
Kota ini penuh dengan mantra gila—
tempat di mana satu-satunya cara bertahan hidup
adalah menjadi kebal terhadap ketidakadilan
atau mati pelan-pelan sambil tersenyum pura-pura.
.
Jalur beton yang mencekik pernapasan kami
kami ingin kau robohkan sendiri tiang-tiangmu,
buatlah pesta besar sebelum kehancuran,
dan biarkan kami tertawa terakhir
dengan dada terbuka dan paru-paru penuh ledakan!
.
Unaaha, 2025
.
.
Leave a Reply