Puisi Muhammad Daffa & Selo Rasyd Suyudi (Koran Tempo, 26 Juli 2025)
Voice Note
.
suaramu,
lantunan kemarau
semusim lalu
meminjam kota
yang sendiri
becermin pada waktu
.
betapa dalam
suara-suara menempuh
betapa riuh
berita-berita
menyebar seluruh
seseorang bangkit
dari rasa nyeri
sebuah kursi mendaulat
atas nama keramat:
Pertiwi, anak sunyi
haus janji-janji
.
berikan padanya
arak api
atau sumber alir
tersembunyi
.
banjarbaru, 092425
.
Muhammad Daffa lahir di Banjarbaru, Kalimantan Selatan, 1999. Ia alumnus Jurusan Sastra Indonesia Universitas Airlangga, Surabaya, Jawa Timur. Buku puisinya berjudul Catatan dari Pekarangan Acak (Penerbit Lumpur, 2025).
.
.
Aqua Vitae
.
yang keluar dari kepalaku adalah setan-setan,
raja-raja kalah perang, mimpi-mimpi yang ditebas
parang—puluhan kecup ibu yang ia pasrahkan
pada dahiku, bikin bekas, dan malu terlihat
teman-teman
.
yang keluar dari kepalaku adalah jerit sakit keputusasaan,
gagap dan kegagalan, dan bedil buluh makian dan kekecewaan
—masa kanak-kanak, yang kutaruh dan tenangkan di saban
akhir pekan selalu merengek dan manja minta ampun
.
semuanya: keluar dari kepalaku. menyisakan tengah
malam yang melek. juga sungsang. bikin mataku kemarau
panjang. dan aku menelan seribu keberanian untuk
besok. lagi.
.
2025
.
.
Leave a Reply