Pusat Dokumentasi Puisi Koran Indonesia

Acep Zamzam Noor, Koran Tempo, Puisi

Bukit Terakhir dan Jejak Luka

Bukit Terakhir - Puisi Acep Zamzam Noor

Bukit Terakhir ilustrasi Alvin Siregar/Koran Tempo

Puisi Acep Zamzam Noor (Koran Tempo, 12 Juli 2025)

Di Bukit Terakhir

.

Apa yang ingin kudengar darimu

Mungkin jawaban dari pertanyaan lama

Yang terlupa. Ketika angin mulai nakal

Menggoyangkan semak dan belukar

.

Tak ada lagi burung-burung melintas

Namun truk-truk selalu datang dan pergi

Sejauh pandang hanya pasir dan bebatuan

Lalu terdengar serangga mulai bertanya

.

Pertanyaan ibarat kerikil yang terselip

Di aliran darah. Ketika bukit-bukit diratakan

Maka akan terjadi penyumbatan pada otak

.

Lalu apa yang ingin kudengar darimu

Mungkin jawaban yang tak kunjung tiba

Di telinga. Kulihat truk-truk terus bergerak

.

2024

.

.

Ada Jejak Luka

.

Serpihan hari-hari

Yang diterbangkan kenangan

Melintasi ruang dan waktu. Ada jejak luka

Pada jalan panjang keterluntaan kita

.

Reruntuk tahun-tahun

Yang teronggok menjadi batu

Berserakan di sudut-sudut sejarah

Pertikaian kita. Debu mengepul di udara

.

Cukup lama kita terperangkap dalam tafsir

Yang tak pernah terselami. Bukit-bukit hijau

Perlahan-lahan menjadi padang pasir

.

Cukup lama kita terjebak dalam ayat-ayat

Yang bermakna ganda. Hutan-hutan larangan

Diam-diam menjelma komplek perumahan

.

2024

.

.

Tak Pernah Tahu

.

Kau tak pernah tahu

Puisi akan membawamu

Ke pulau mana. Ketika fajar tiba

Dadamu menyerap kesumba

Menjadi serangkaian kata

.

Kau tak pernah tahu

Puisi akan melabuhkanmu

Di dermaga mana. Ketika suara azan

Berkumandang dari kejauhan

Perahumu masih berlayar

.

Kau tak pernah tahu

Puisi akan menguburkanmu

Di palung mana. Ketika matahari

Menyingsing dari arah timur

Usiamu sudah di barat

.

2024

.

.

Acep Zamzam Noor lahir di Tasikmalaya, Jawa Barat, 28 Februari 1960. Menulis puisi dan esai, ia telah melahirkan banyak buku kumpulan puisi serta esai.

Buku puisinya, antara lain, Tamparlah Mukaku! (kumpulan sajak, 1982), Dayeuh Matapoe (kumpulan sajak bahasa Sunda, 1993), The Poets Chant (antologi sajak bahasa Inggris, 1995), Bakti Kemanusiaan (antologi sajak, 2000), Modern Sundanese Poetry: Voices from West Java (antologi sajak bahasa Sunda, diterjemahkan dalam bahasa Inggris, 2001), serta Toekomstdromen (antologi sajak bahasa Belanda, 2004).

Buku puisi lain Acep adalah Antologia de Poeticas (antologi sajak bahasa Portugal, 2008), Jentayu: Hors-série n°3 – Indonésie (antologi sajak bahasa Prancis, 2018), Tungtung Teuteupan (kumpulan puisi bahasa Sunda, 2019), dan Tonggeret (kumpulan sajak, 2020). Sekarang Acep sedang menyiapkan kumpulan puisi dan esai yang baru.

Acep banyak meraih penghargaan, seperti Penghargaan Penulisan Karya Sastra Depdiknas (2000), Penghargaan Penulisan Karya Sastra dari Pusat Bahasa Departeman Pendidikan Nasional (2001) untuk kumpulan sajak Di Luar Kata, Southeast Asian Writers Award (S.E.A. Write Award) dari Kerajaan Thailand (2005) sebagai wakil pengarang Indonesia dengan kumpulan sajak Jalan Menuju Rumahmu, Khatulistiwa Literary Award (2007) untuk kumpulan sajak Menjadi Penyair Lagi, serta Hadiah Sastra Rancage 2012 untuk kumpulan sajak Paguneman.

.
.
Bukit Terakhir dan Jejak Luka. Bukit Terakhir dan Jejak Luka. Bukit Terakhir dan Jejak Luka. Bukit Terakhir dan Jejak Luka. 

Leave a Reply

error: Content is protected !!