Pusat Dokumentasi Puisi Koran Indonesia

Jawa Pos, M Tauhed Supratman, Sajak

Joget Itu Air Mata Itu

Joget Itu Air Mata Itu - Sajak M Tauhed Supratman

Joget Itu Air Mata Itu ilustrasi Budiono/Jawa Pos

Sajak M Tauhed Supratman (Jawa Pos, 06 September 2025)

Joget Itu Air Mata Itu

.

Joget itu air mata itu

keringat yang mengkristal di purnama palsu,

kaki-kaki mencabik debu panggung fana,

sementara gamelan mengiris malam jadi kabut.

.

sanggul penari: mahkota duri terselubung,

setiap goyang menelan jerit yang terpendam.

Senyumnya topeng tembaga retak

menyimpan banjir di balik bendungan senyap.

joget itu air mata itu

alir bening yang menggenang di gelak tawa,

mengalir dari pori-pori bumi terluka,

membasuh panggung yang berselimut mega.

saat gendang berhenti dan lampu padam,

tinggal gema menggantung di kelam:

“Liuk tubuhmu adalah doa tanpa suara

air mata rakyat menjelma laut abadi.”

 .

Pamekasan, Agustus 2025

.

.

Guru

.

Guru bukan angka di tabel anggaran,

mereka galaksi pengabdian dalam semesta bisu.

dengan kapur yang hancur jadi debu zikir,

mereka susun manusia dari tanah dan rindu.

.

di ruang sempit tempat masa depan disemai,

setiap garis papan tulis adalah sungai purba

mengalirkan mata air keabadian

ke retak-retak peradaban yang haus makna.

.

kau menghitung yang terukur:

tiga puluh hari mengajar,

dibayar gajimu sehari.

namun guru menanam yang tak terhitung:

akar kebijaksanaan, bintang yang diselipkan

di kelopak zaman.

.

jika pengabdian disebut beban,

mengapa langit tak runtuh menanggung cahaya?

guru berjaga di tepian fana,

penjaga obor yang apinya

menyala dari tubuhnya sendiri.

.

jangan timbang mereka dengan dacin dunia

sebab jasanya adalah tinta yang menulis langit.

ketika satu tubuh lelah terkulai,

seribu jiwa bangkit membawa panji

yang tak pernah tercatat di naskah anggaran.

.

Pamekasan, Agustus 2025

.

.

Pupus

.

Aku menabung setitik demi setitik

seperti semut mengumpulkan biji

tiap butir nyawa

untuk sesuap nasi

untuk seteguk susu

untuk sebutir obat

.

lalu kalian datang

dengan stempel dan algoritma

bekukan hidupku semalam

.

“Kapan dibuka?” tanyaku

petugas menghela:

“Bapak harus ke pengadilan kota.”

kota? pengadilan?

bagaimana pergi

jika ongkos sekali jalan

sama dengan dua hari mencangkul?

.

Istriku berbisik parau:

“Katanya kita koruptor?”

koruptor?

kami yang membungkuk subuh di sawah

kami yang tak mencuri

meski kelaparan

.

di kota

orang berdebat tentang keadilan

tapi siapa dengar

jerit kami yang tercekik

.

kupandang ponsel bisu:

“Akun anda dibekukan sementara”

sementara?

sementara anakku tak bisa menunggu

sementara bibit harus dibeli

sementara hidup tak bisa di-pause

.

aku hanya petani bodoh

yang baru pahit sadar:

di sini, yang paling berbahaya

adalah jadi miskin

dan punya rekening.

.

Pamekasan, Agustus 2025

 .

.

M Tauhed Supratman. Penyair tinggal di Pamekasan.

 .

Jawa Pos menerima kiriman puisi dengan jumlah karya minimal tiga. Sertakan biodata singkat, foto terbaru, kartu identitas, nomor rekening, dan NPWP. Puisi dikirim ke sajak@jawapos.co.id
 .
Joget Itu Air Mata Itu. Joget Itu Air Mata Itu. 

Leave a Reply

error: Content is protected !!