Sajak Sapta Arif (Jawa Pos, 30 Agustus 2025)
Raden Gugur Hijrah ke Barat
.
Dari Trowulan berlari ke barat,
kepedihan memeluk tubuh
begitulah ia mengenang
darah selir mendidih ke ubun-ubun
.
Ia tak tahu,
:mahkota telah hilang, Tuan,
ribuan panah api menghujam dari langit
banjir darah bersimbah
mengalir di sungai Brantas
.
Di atas cungkup batu firasat berisik
tetapi, nasib kadung berganti
.
dan maut seakan memunggungi
.
Di tanah yang porak poranda
Sultan Demak mengirim sembilan utusan
sembilan pasak menghujam ke bumi
berbinar cahaya keemasan
.
ia hanya tercenung mendengar kabar
dihempas angin timur berpendar-pendar
.
genderang kaki musuh menyala di lereng
lereng gunung
.
ia menatap kekasihnya, Retno Dumilah
intan jiwa yang tak padam
:padanya janji disematkan
.
di tubuh Lawu, leluhur bersemayam
pohon-pohon menjelma pasukan
mengoyak titah penguasa baru
.
Ponorogo, Agustus 2025
.
.
Kuburan (I)
.
Kita berjalan ke puncak Hargo Dumilah,
dari pos ke pos, menyusur setapak
ingatan mengerak.
.
Kuburan besar menyusut di dada waktu
yang telanjang berserah.
Hargo Dalem menguar bau kopi,
Sepincuk nasi hangat, bayam, kacang
anjang, kobis,
dan terancam—disiram bumbu kacang.
Menguar aroma tubuhmu, Mbok Yem.
.
Dua pemuda bercakap, memeram
kenang
yang disemai di ladang hatinya.
Ransel berjejer,
punggung direbah di atas altar
—dipeluk bebatuan dingin.
.
Sekelompok orang berbaju hitam
dengan tali putih membelit pinggang
mengambil air di Sendang Drajat.
Keheningan meriap, menyusur sukma.
.
Ingatan membelit, seseorang bertanya
“Di mana Hargo dalem?”
“Di sini, ya di sini. Tetapi, jiwanya telah
mangkat.”
.
Di hadapan jendela langit pagi berembun,
mereka berziarah dan berkisah,
:inikah kuburan besar itu?
.
Ponorogo, Agustus 2025
.
.
Kuburan (II)
.
Purnama pucat memayung tubuhmu,
Kau (terus) melayang di atas cungkup.
Dingin malam menyebar, memupuk lantai altar.
:Tidurlah, barang sebentar, kepedihanmu kan berlalu.
.
Dua sudut dikepung kepatihan,
Kiwa-Tengen
Mereka adalah batu yang sama,
kepedihan yang lapang, berangin-angin
berderap-derap menyusur sunyi
.
“Mata tak bisa mencari, pejamlah barang sejenak
matamu, jiwa yang dilahap duka lara.”
.
Pupil nyalang, dada dibasuh duka,
Belum sempat sembuh kiranya,
sepasang utusan datang
membawa kabar
tiada (kabar) putra mahkota
usiamu dilumuri nasib anak selir
.
Tetapi, telah ranum cinta diperam.
:kekasihku, Joko Kebuk, kudekap dirimu
dengan peluh intan cemerlang—di dadaku
.
purnama yang pucat, kini mekar berseri
tumbuh benih bebunga angsana
dipeluk erat,
tenggelam di dada Retno Dumilah.
.
Ponorogo, Agustus 2025
.
.
Sapta Arif. Penulis tinggal di Ponorogo.
.
Leave a Reply