Pusat Dokumentasi Puisi Koran Indonesia

Geni Putut Smarani, Koran Tempo, Puisi, Rohman Qudus

Menyeduh Malam ke dalam Cangkir Hitam

Kematian, Katamu seperti Menyeduh Malam ke dalam Cangkir Hitam - Puisi Rohman Qudus

Kematian, Katamu seperti Menyeduh Malam ke dalam Cangkir Hitam ilustrasi Alvin Siregar/Koran Tempo

Puisi Rohman Qudus dan Geni Putut Smarani (Koran Tempo, 27 September 2025)

Kematian, Katamu seperti Menyeduh Malam ke dalam Cangkir Hitam

Puisi Rohman Qudus (Koran Tempo, 27 September 2025)

.

1/ menunggu dingin sampai

seekor lalat yang kesiangan

hinggap—mengapung

antara tenggelam, dan tidak

.

2/ seperti menyelamatkan

sehelai rambut dari basah

kau menyapit sayap lalat

berharap getar tak meriak

dalam keruh cangkir

.

3/ akan tetapi riak jadi

ombak bersusulan

mengantar geladak ke tepian

seperti sesi pelayaran

terakhir, ombak tak pamrih

tak juga enggan

merendam cangkang

.

4/ cangkang pecah juga

bilur merah keabu-abuan

di tengah pekat badai

kau teringat pada sorot suar

.

suar yang kadang tampak

seperti binar malap kanak

kanak ‘tika mendengar

hikayat malam

(amsal gelap menyebrang semenanjung)

menebar bubuk-bubuk kopi

.

5/ kopi seduh yang tak lagi tersentuh

dan dibasikan lalat. kini tinggal

dingin kelam, jadi logam

duka yang tertinggal

di kerongkongan

.

~al

Cibitung 2025

.

.

Rohman Qudus, penulis kelahiran Panineungan, Ciamis, Jawa Barat.

.

.

motobaro dan rumah kecil di tepi bukit

Puisi Geni Putut Smarani (Koran Tempo, 27 September 2025)

.

aku ingat tawa azil

di hutan, ketika malam turun.

dua tupai berebut tempat tidur

sementara burung hantu jauh di pohonan

diam menyeringai

.

tawanya seperti bayi, lepas

tanpa beban

malam memanjang. azil beromong

kosong soal bepergian

dengan motobaro; menyimpan samudra

di sakunya

juga perihal pernafasan api

yang mampu menebas hantu-hantu

aku tertawa; terpikat pada cerlang bola

matanya

.

“bunuhlah hantu di mimpi

burukku dengan pernafasan itu

dan bawa aku bersama motobaromu

membelah laut dunia baru”

.

akan tetapi, layaknya rumah

terbakar dalam satu malam

menyisakan arang saja

begitulah cinta menjadi

lebih kosong dari omong

kosong azil hari itu

.

azil yang payah beranjak dari

halte masa depan,

meninggalkan bus-bus yang membawa mimpi

tentang dipanggil ayah bunda

dan memiliki rumah kecil di tepi bukit

di mana senja dapat dibungkus dengan

pelupuk mata

.

kakinya melangkah, ringan

mengudara seperti ia bukan bagian dari bumi ini. ia adalah alien

yang baru saja merupa mimpi burukku

.

“aku ingin menuju

kota tanpa kenangan,” kataku

kepada supir yang acuh

.

dari balik jendela bus, sepanjang

detik melupakan, aku melihat kilaskilas momen

tertib berdiri di tepi trotoar seperti

pejalan kaki yang timbul tenggelam

lalu air mataku datang semengiris river

flows in you

dan aku sungguh tak lihai ‘tuk

melambaikan lengan

kepada yang timbul tenggelam

di luar kaca:

.

aku ingat tawa azil

di hutan, ketika malam turun

dua tupai berebut tempat tidur

sementara burung hantu jauh di pohonan

diam menyeringai

.

dan kami berciuman seolah ‘kepergian’ tidak pernah tercatat dalam kamus-kamus bahasa

.

2025

.

.

Geni Putut Smarani adalah perempuan asli Malang, Jawa Timur, yang tak hanya menulis puisi, tapi juga cerpen. Penulis bisa disapa di FB dan IG @genipututsmarani.

.
Menyeduh Malam ke dalam Cangkir Hitam. Menyeduh Malam ke dalam Cangkir Hitam. Menyeduh Malam ke dalam Cangkir Hitam.

Leave a Reply

error: Content is protected !!