Pusat Dokumentasi Puisi Koran Indonesia

Indri Anggraeni, Irzi, Koran Tempo, Puisi

Ziggurat dan Elegi Affan 4

Ziggurat dan Elegi Affan 4 - Puisi Indri Anggraeni & Irzi

Ziggurat dan Elegi Affan 4 ilustrasi Alvin Siregar/Koran Tempo

Puisi Indri Anggraeni & Irzi (Koran Tempo, 20 September 2025)

Ziggurat

Puisi Indri Anggraeni (Koran Tempo, 20 September 2025)

.

jangan giring Musa

menapak batu upacara,

tangga dari lidah pejabat

dan darah kontrak.

.

ia bukan arca seremoni,

ia pengiris laut,

penggugat gurun.

.

di puncak,

udara memanas oleh uap fosfor

dari mulut para perawi dusta,

dan kota menunduk

pada denting peti besi istana.

.

Musa tak membaca itu.

ia memecah prasasti

dengan satu pukulan,

membelah ziggurat dari pangkalnya,

hingga batu-batu menimpa tanda

dari tangan, dan debu

yang naik

menghapus nama, jejak,

juga ingatan

bahwa mereka pernah ada.

.

Garut, 2025

.

.

Indri Anggraeni, yang lahir di Garut, Jawa Barat, 11 Juni, adalah mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Siliwangi, Tasikmalaya. Karyanya disiarkan di berbagai media, baik lokal maupun nasional. Ia adalah salah satu juara lomba cipta puisi yang diselenggarakan Bank Indonesia Tasikmalaya pada 2025.

.

.

Elegi Affan 4

Puisi Irzi (Koran Tempo, 20 September 2025)

.

1. Suara Ayah-Ibu

Anak muda itu pulang ke rumah hanya dengan kabar, kabar dingin seperti hujan deras yang membanjiri selokan, sementara kami masih menunggu pintu kayu digedor, helm ditaruh, dan suara “Bu, Pak, saya pulang” mengisi malam—tapi yang datang malah pelukan orang asing berseragam, kata maaf yang tidak bisa menghidupkan napasnya, doa yang dipaksa jatuh di lantai keramik retak, dan kami bicara satu sama lain dalam gumam panjang: bagaimana kota ini tega, bagaimana negara bisa menukar anak sulung kami dengan janji-janji kosong, bagaimana motor yang ia rawat setiap hari tidak sempat menolongnya, dan kami hanya bisa menangis sambil membayangkan tubuhnya yang dulu lahir dari rahim dan doa kini diangkat dari jalan seperti barang, seperti benda, padahal ia manusia, darah daging kami, ia Affan—dan doa kami kini hanya sebuah kereta malam yang terus melaju tanpa stasiun, tak ada tiket kembali, hanya kabut dan ratapan panjang yang menggema di dalam dada.

2. Suara Kakak

Aku masih ingat kami berangkat pagi sama-sama, helm hijau lusuh, jaket hujan dilipat seadanya, bercanda soal pelanggan yang cerewet, tentang tarif yang dipotong aplikasi, dan aku bilang “jangan lupa pulang, Fan, jangan lupa pulang,” lalu matahari turun, langit merah, jalan macet, demo ribut, sirine panjang, lalu telepon masuk, suaranya hilang, tubuhnya hilang, dan sekarang aku sendiri di jalan, lampu merah terasa lebih lama, klakson lebih menyakitkan, setiap kali lihat rantis atau aparat aku ingin teriak tapi tak bisa, hanya tanganku gemetar di setang motor—aku kakaknya, tapi aku tidak bisa jaga dia, tidak bisa tahan dunia agar tak menabrak, tak bisa buat ban raksasa berhenti satu detik—dan aku ingin bilang pada semua orang: dia bukan hanya korban, dia temanku di jalan, saudaraku, pelipur lelahku, dan sekarang jalanan ini terasa terlalu sepi, terlalu besar, dan namanya tetap mengekor di kaca spion setiap kali aku pulang larut.

3. Suara Adik

Aku masih SMP, dan setiap pagi abang itu yang kasih uang jajan, bilang jangan lupa belajar, jangan lupa bawa pulpen, jangan lupa sholat, dan aku suka diam-diam nyolong cemilan dari sakunya kalau dia tidur siang, lalu dia bangun tertawa pura-pura marah, bilang “besok jangan lagi,” tapi besok aku ulang lagi, dan sekarang aku duduk di kamar sempit ini, buku pelajaran terbuka tapi huruf-hurufnya kabur, semua orang dewasa bicara kematian, pemakaman, maaf dari orang besar yang aku tak kenal, janji bantuan yang katanya akan datang tapi aku hanya ingin abangku buka pintu, lempar tas, bilang “adik, ayo main,” tapi pintu tetap sunyi, pintu jadi tembok, abang jadi nama di berita, dan aku masih kecil tapi aku tahu dunia ini kejam, aku tahu adil itu jarang, aku tahu kehilangan itu nyata—dan malam ini aku bicara pada bantal, pura-pura ia abangku, bilang aku janji belajar, aku janji jadi orang, aku janji terus mengingatmu, karena itu satu-satunya cara membuatmu tetap di sini.

.

2025

.

.

Irzi ialah nom de plume dari Ikhsan Risfandi, yang lahir di Jakarta 1985. Ia sempat menjajal peruntungan sebagai gitaris jaz kemudian banting gitar untuk berfokus menempuh kepenulisan puisi jaz dan Betawi, sesekali cerpen. Buku puisi pertamanya, Ruang Bicara, terbit pada 2019. Adapun Trivia Kampung Sawah, yang terbit di Velodrom pada November 2024, menjadi bukunya yang kedua.

.
Ziggurat dan Elegi Affan 4. Ziggurat dan Elegi Affan 4. Ziggurat dan Elegi Affan 4. Ziggurat dan Elegi Affan 4. Ziggurat dan Elegi Affan 4.

Leave a Reply

error: Content is protected !!