Puisi Khalil Satta Elman (Koran Tempo, 05 Juli 2025)
Asta Tinggi, Suatu Hari
.
ada yang membikinku gemetar kini
sejarah adalah mori yang sobek
aku menjahitnya dengan jarum-jarum hujan
yang terkulai di tangga makam
.
bunga-bunga mengatakan segalanya
moyangku terkubur di sini
dengan segenap nyeri yang bersisa
kembali kubaca nama-nama pada nisan berlumut
:mereka hanya takluk pada maut
.
telah kutemukan kembali arloji
yang pernah berdetak di jantungku
ia menunjukkan
betapa perlu kenangan mesti ditulis ulang
berapa tangguh cinta sebagai pedang di medan perang
.
Sumenep-Yogya, 2025
.
.
Pernyataan
.
bahasa adalah surga mungil, di firdausnya
aku insan yang memetik bunga-bunga berupa kata-kata
tapi aku menemukan bulan retak terjepit awan berarak
barangkali tuhan sedang cemburu, menemukanku menolak kaku
ketika mengatakan cinta di hadapan kuntum mawar itu.
kemudian ada yang perlahan lepas, semacam kalimat tak bernapas.
.
aku tak hendak mengatakan kesunyian ini adalah kematianku
walau lebat hujan berusaha menebalkannya.
telanjur dalam memasuki bangkai-bangkai ingatan
katedral-katedral tua, menitip dentang loncengnya di jantungku
metrum-metrum sajak purba, menjelma kesedihanku.
.
nasib terlalu banyak kehilangan rima
pleidoi sederhana juga kehilangan gema
ternyata bahasa adalah kekasih tunggal kitab suci
aku membacanya di perbatasan wahyu dan kamis putih
rindu yang keras kepala menanggung kebisuan maha seketika.
.
waktu terlihat pucat. samsu layu di sisa hikayat
lantas bagaimana menulis ulang cinta berkarat
dengan morfem atau frasa kesepian yang padat.
malam terlalu sibuk bersama gigilnya.
aku pun tahu, tanpa menujum rasi bintang lebih dulu
abjad-abjad keheningan terpahat di jantungku
kemudian gugur menjadi nama-nama bagi masa lalu.
.
pada akhirnya aku ingin memeluknya. memeluknya. tidak
dengan tanganku yang kasar, yang kerap memberikan memar
tapi dengan kelembutan bahasa, hingga tak lagi dirasakan
jemari-jemari ajal atau bahkan sifat buruk dendam
.
Solo, 2024
.
.
Leave a Reply