Puisi Ihya Nur Fawa’id & Galuh Ayara (Koran Tempo, 19 Juli 2025)
Di Time Zone
.
aku memotret keindahan di depan komedi putar. kuda-kuda itu seperti tersenyum kepada kita. mereka terus berlari mengejar satu sama lain mirip jarum jam, jarum waktu yang seringkali menyuntikkan kesepian. di time zone saat kita bisa bermain-main dengan waktu. beberapa tiket keluar dari mesin. beberapa lampu menyala dari mesin. dan kita takkan mempersoalkan semua itu, meski akhirnya, semua kebersamaan harus berhenti ketika kartu tak bisa digunakan lagi.
.
.
Ihya Nur Fawa’id adalah penyair yang menetap di Karawang, Jawa Barat. Ia cukup aktif dalam kegiatan-kegiatan seputar baca-tulis di Karawang-Cikampek.
.
.
Sepuluh Hari Lagi
.
mungkin kau akan lihat sepasang dada perawan
mekar
seperti bunga,
dan bulan jatuh di halaman juni
ketika hari sedang lebat-lebatnya diguyur hujan,
yang datang seperti bayi prematur
.
sepuluh hari lagi
kau akan lihat
anjing pudel yang sibuk mematut diri
berharap jadi kucing
atau angsa,
dan seorang ibu yang lewat
membawa lampu nyala biru
.
di ujung lorong,
.
sepasang bayangan
sedang berciuman
di tembok basah
.
jejak hujan lalu bicara
terbata
angin menyusup lewat jendela terbuka
membisikkan puisi dari radio tua
dan kita,
masih bertanya
tentang makna dari hari-hari yang membeku di bawah payung
atau tangis yang mengalir lewat selokan
.
sepuluh hari lagi, barangkali
tak ada yang berubah,
kecuali detak jam yang mulai malas
dan tanganmu yang gemetar,
menulis ulang mimpi semalam
.
2025
.
.
Leave a Reply