Pusat Dokumentasi Puisi Koran Indonesia

Koran Tempo, Puisi, Salman Aristo

Negara Tak Boleh Mengingat

Negara Tak Boleh Mengingat - Puisi Salman Aristo

Negara Tak Boleh Mengingat ilustrasi Alvin Siregar/Koran Tempo

Puisi Salman Aristo (Koran Tempo, 06 September 2025)

Negara Tak Boleh Mengingat

.

Aku menolak jadi penyair

di negeri yang takut pada ingatannya sendiri.

.

Tak ada yang selesai di sini—

bahkan diam pun dicurigai.

.

Kata-kata dibungkus rapi

seperti paket yang tak akan pernah dikirim.

.

Malam terlalu panjang untuk doa

terlalu pendek untuk tangisan.

.

Sajak tinggal tulang.

Dan tulang tinggal dalam.

.

.

Puisi yang Lolos dari Hujan

.

Sudah kukunci pintu,

tirai pun kutarik rapat—

tak ada yang turun malam ini.

Aku tahu kau di luar,

menggoda seperti kebiasaan,

mendesis di aspal ingatan.

.

Tapi baitku kali ini

tidak butuh rintik.

Ia cukup duduk,

mengeringkan kata

yang sempat kuyup oleh

penyair lain.

.

Biarlah yang basah jadi lagu,

yang deras jadi lukisan,

yang rinai jadi kenangan.

.

Puisi ini berjalan sendiri—

tanpa payung,

tanpa kau.

.

.

Salman Aristo lahir di Jakarta pada 13 April 1976. Ia dikenal sebagai penulis skenario film, sutradara, dan produser. Kariernya berawal pada 2004 sebagai penulis naskah (scriptwriter) film Brownies yang tayang pada 2005. Bersama istrinya, Ginatri S. Noer, dia kemudian menulis skenario untuk film Ayat-ayat Cinta (2008). Ia juga menyutradarai film Jakarta Maghrib (2010), Jakarta Hati (2012), Cinta dalam Kardus (2013), dan Satu Hari Nanti (2017).

.
.
NEGARA TAK BOLEH MENGINGAT.

Leave a Reply

error: Content is protected !!